0

Strategi pengembangan aplikasi Smartcity untuk Pemda-Pemda di Indonesia

Jika aplikasi Smart City yang akan digunakan oleh ratusan ribu atau jutaan warga dikerjakan sendiri oleh pemerintah daerah (Pemda), maka terdapat beberapa kelemahan yang dapat terjadi, baik dari segi teknis maupun non teknis:

Teknis:

– Pemda mungkin tidak memiliki keahlian atau kapasitas yang cukup dalam pengembangan aplikasi.

– Aplikasi mungkin tidak dapat mengakomodasi jumlah pengguna yang besar, sehingga menyebabkan masalah skalabilitas.

– Aplikasi mungkin tidak dapat terintegrasi dengan sistem lain yang digunakan oleh pemerintah dan pelaku usaha lokal.

– Aplikasi mungkin tidak dilengkapi dengan sistem keamanan yang cukup untuk melindungi informasi pribadi dan transaksi yang dilakukan oleh pengguna.

Non teknis:

– Pemda mungkin tidak memiliki dana yang cukup untuk mengembangkan aplikasi.

– Pemda mungkin tidak memiliki kemampuan untuk mengukur dan menganalisis data dari aplikasi, sehingga tidak dapat mengevaluasi efektivitas aplikasi dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk peningkatan.

– Pemda mungkin kesulitan dalam menyediakan dukungan pelanggan yang cukup untuk aplikasi, sehingga pengguna mungkin mengalami masalah dalam menggunakan aplikasi.

– Pemda mungkin kesulitan dalam menyediakan update dan pemeliharaan aplikasi yang cukup untuk memastikan aplikasi bekerja dengan baik dan tetap aman.

– Pemda mungkin kesulitan dalam mengumpulkan dan menganalisis data dari aplikasi untuk digunakan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan yang lebih baik untuk kota.

– Pemda mungkin kesulitan dalam mengkoordinasikan dengan pelaku usaha lokal dan pemerintah lainnya dalam pengembangan aplikasi.

Secara keseluruhan, pengembangan aplikasi Smart City oleh Pemda mungkin menghadapi beberapa kendala teknis dan non teknis yang dapat menghambat proses pengembangan. Bekerjasama dengan startup yang sudah memiliki platform aplikasi smart city yang lengkap dapat memberikan beberapa manfaat bagi pemerintah daerah (pemda) dalam implementasi smart city. Beberapa diantaranya:

– Akses ke teknologi dan inovasi terbaru: Start-up yang sudah memiliki platform aplikasi smart city yang lengkap mungkin sudah mengembangkan teknologi dan inovasi terbaru dalam bidang tersebut, sehingga pemda dapat mengambil manfaat dari ini dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada warga.

– Skala ekonomi: Bekerjasama dengan start-up yang sudah memiliki platform aplikasi smart city yang lengkap dapat membantu pemda dalam meningkatkan skala ekonomi dari proyek smart city yang dijalankan, sehingga dapat menghemat biaya dan waktu dalam pengembangan aplikasi.

– Pengelolaan dan pemeliharaan: Start-up yang sudah memiliki platform aplikasi smart city yang lengkap mungkin juga sudah memiliki tim yang berpengalaman dalam pengelolaan dan pemeliharaan aplikasi, sehingga pemda dapat menghemat biaya dan waktu dalam hal ini.

– Dukungan untuk pengguna: Start-up yang sudah memiliki platform aplikasi smart city yang lengkap mungkin juga sudah memiliki dukungan yang baik untuk pengguna, sehingga pemda dapat memastikan bahwa warga kota dapat menggunakan aplikasi dengan mudah dan tanpa kesulitan.

– Penggunaan data: Start-up yang sudah memiliki platform aplikasi smart city yang lengkap mungkin juga sudah memiliki kemampuan dalam mengumpulkan, menganalisis dan mengolah data yang diperlukan untuk pengambilan keputusan dan pengembangan smart city.

Sebelum memutuskan untuk menggunakan platform digital aplikasi smart city dan mengadopsi teknologi cloud, pemerintah daerah (pemda) perlu memperhatikan beberapa hal:

– Kebutuhan: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan smart city yang diinginkan.

– Keamanan: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan aman dan dapat melindungi data yang disimpan.

– Skalabilitas: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan dapat mengakomodasi jumlah pengguna yang akan menggunakan aplikasi.

– Dukungan: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan memiliki dukungan yang baik, sehingga dapat mengatasi masalah yang mungkin terjadi.

– Biaya: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan dapat dikelola dalam jangka panjang dan tidak akan menimbulkan biaya yang tinggi.

– Integrasi: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan dapat diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada di pemerintah daerah.

– Kontrak dan Garansi: Pemda harus membuat kontrak dan garansi yang jelas dan tegas dengan vendor, dan memastikan bahwa kontrak tersebut melindungi hak pemda dalam hal masalah atau kerusakan yang terjadi.

– Analisis resiko: Pemda harus melakukan analisis resiko terhadap platform dan teknologi yang akan digunakan, dan memiliki rencana untuk mengatasi resiko yang mungkin terjadi.

– Kebijakan dan regulasi: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang akan digunakan sesuai dengan kebijakan dan regulasi yang berlaku di daerah.

– Pengalaman dan track record vendor: Pemda harus melakukan riset dan melihat pengalaman dan track record vendor, untuk memastikan bahwa vendor memiliki pengalaman dan kompetensi yang cukup dalam bidang smart city dan teknologi cloud.

– Penyedia jasa: Pemda harus memastikan bahwa vendor yang dipilih memiliki infrastruktur dan kapabilitas yang cukup untuk menyediakan jasa yang diperlukan.

– Analisis cost benefit: Pemda harus melakukan analisis cost benefit yang jelas untuk memastikan bahwa investasi dalam platform dan teknologi yang akan digunakan akan memberikan nilai yang sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.

– Continuous improvement: Pemda harus memastikan bahwa platform dan teknologi yang digunakan dapat terus dikembangkan dan diperbaharui untuk mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan smart city yang berubah.

Visit : Smart Public Service Plarform
https://isn-speed.com/products/SpeedQ/